aRmY’s Journal

December 23, 2006

I dOnT wAnNa LosE yOu,,,

Mungkin diriku terlalu tak peduli pada yang ada
Mungkin diriku terlalu tak berani untuk memulai bicara
Mungkin pikiranku terlalu tak simpel untuk dibaca
Dan mungkin sikapku terlalu tak dapat ditebak oleh mereka

Aku pun tahu…
Pada akhirnya…
Aku hanya dapat membuka sedikit mulutku, melontarkan kata maaf, dan tersenyum manis

Dan aku pun tahu…
Pada akhirnya…
Dia hanya dapat membuka sedikit mulutnya, mengatakan bahwa dia memaafkanku, dan tersenyum manis

Maaf sayang…
Terlalu banyak kekecewaan yang kuberikan padamu..
Terlalu banyak kesalahan yang kulakukan padamu..
Aku belum (atau tidak akan pernah?) memahami dirimu..

Aku bingung…
Aku takut kehilangan dirimu..
Apakah hanya dengan kata maaf dan senyum manis aku dapat mempertahankan dirimu?

Jujur..
Aku ingin selamanya denganmu..

Terlalu tinggi harapanku untuk terus bersama dirimu
Dan terlalu lancang bagiku yang hanya manusia biasa untuk menentukan nasibnya sendiri
Biarlah semua berjalan perlahan
Tidak ada yang perlu dipaksakan
Semua yang terjadi harus bisa kuhadapi
Apapun yang terjadi akan kuterima pasti
Karena aku tahu..
Aku terlalu mencintaimu
Aku tak mau kehilangan dirimu

December 15, 2006

Sok2 memandang hidup aaah…

Tadi, di luar rumah hujan turun. Tidak besar memang. Hanya rintik-rintik yang memberi secercah kehidupan bagi petani padi. Saya pun menikmati kehangatan di dalam rumah ditemani oleh secangkir kopi yang dicampur dengan nestle coffemate dan setoples biskuit. Sambil mendengarkan lagu-lagu yang mengalun lembut membelai batin. Memang tidak ada esensi antara hujan rintik-rintik di luar dengan menikmati secangkir kopi hangat (yang kemanisan). Namun saat-saat itu menjadi perenungan saya dalam mencari secuil jawaban atas segala realita di dunia ini.
Halah, cuih!! Saya emang anak jurnalistik. Tapi saya susah menyusun kata2. Bahkan Pak Sahala pun bilang tulisan saya terlalu banyak kesalahan berbahasa. Huehe… Bapak tega banget sih Pak ngata2in saya? Kan saya jadi malu. Ho..ho..

Jadi intinya gini, tadi sore itu pas saya lagi duduk-duduk sendiri sambil menikmati… (pokoknya sesuai dengan yang udah saya tulisin di atas tu!) saya mikir2. Sepertinya dunia ini adil ya. Adil ga sih? Semua memang diciptakan berpasang-pasangan dan saling melengkapi. Saya bukan orang yang selalu beruntung atas apa yang saya miliki. Tapi sedikit demi sedikit saya berhasil membuka mata saya dan sekali lagi saya mengatakan bahwa dunia itu adil. Setidaknya, itu yang saya rasakan akhir-akhir ini. Segala kekurangan dalam diri saya berhasil tertutupi oleh kelebihan saya. Bukan ditutupi tetapi tertutupi. Terkadang memang menyakitkan ketika kita dianggap tidak berguna oleh orang lain. Namun akan lebih menyakitkan apabila saya tidak mengakui kekurangan diri saya sendiri. Saya biarkan orang-orang mengambil keuntungan atas kelebihan yang saya miliki. Tapi saya pun masih punya batasan tertentu agar saya tidak termanfaatkan oleh mereka. Saya tegaskan, bukan dimanfaatkan tetapi termanfaatkan. Sekarang saya hanya berpikir, bagaimana agar kekurangan yang saya miliki bisa saya putar 180 derajat untuk jadi kelebihan saya. Karena itu yang saya inginkan.

Tidak jelas memang apa yang saya tuliskan ini. Biarkan semua berjalan perlahan dan mengalir apa adanya. Saya memiliki ambisi sendiri, obsesi sendiri. Begitu pula dengan orang lain. Semua orang bebas memiliki keinginan. Saya tidak ingin tahu dan tidak perlu tahu. Seharusnya memang begitu. Saya berharap orang lain juga tidak perlu tahu dan tidak ingin tahu keinginan-keinginan saya. Tapi bagaimana caranya agar mereka mengerti bahwa saat ini saya sedang berusaha untuk mendapatkan keinginan-keinginan saya? Entahlah. Saya tidak ingin waktu yang menjawabnya. Apalagi rumput yang bergoyang. Karena saya hanya bertanya pada diri saya sendiri, dan saya menghendaki jawaban juga dari diri saya sendiri.

Malam pun semakin larut. Jangkrik mulai berderik, tanda tak ada lagi hujan rintik-rintik. Pikiran saya pun tak lagi tergelitik untuk mendapat jawaban atas realita dunia ini.
Dan tiba-tiba saya tersadar dari sebuah mimpi…
Mimpi bahwa tak ada gunanya memikirkan jawaban atas pertanyaan yang saya pun tidak mengerti mengapa hal tersebut dipertanyakan. Karena saya tak mungkin untuk menjadi bagian besar dari dunia ini…

The End

NB: Tepuk tangan ya buat saya soalnya saya bisa mikir ini di saat saya sedang tak nyaman dengan kekurangan pada diri saya. Ho..ho.. sombong..


December 3, 2006

Temankuw Hanya Si Benda Mati

Akhir-akhir ini saya merasa tidak peduli dengan adanya teman..
karena tampaknya mereka pun hanya peduli dengan kesenangan..
teman yang memilih pertemanan
jelas bukan mereka yang saya harapkan
mereka yang hanya ingin berteman dengan orang-orang yang memiliki berbagai kelebihan
kelebihan yang dilihat dari sudut manapun dapat mereka manfaatkan

semua rasa simpati, empati atau apalah namanya…
hanya mereka jadikan topeng saja
berpura-pura demi kita
berpura-pura demi kita
dan terus selalu berpura-pura demi kita

ah, sudahlah, saya tak percaya siapapun lagi
lebih baik saya sibukkan diri lantas menyendiri
hanya ditemani oleh mereka yang benar-benar sahabat sejati
dan mereka semua adalah benda mati

Kenapa sih mereka mesti pilih-pilih temen?
Cuma pengen sama yang populer?
Cuma pengen sama yang cantik?
Cuma pengen sama yang punya kelebihan materi?
Cuma pengen sama yang pinter?
Itu semua ga akan bikin mereka tambah asik kok!!

Kalo saya pikir-pikir emang teman sejati itu cuma benda mati.
Berteman akrab dengan mereka tidak akan timbul salah paham.
Mereka tidak akan bikin saya kesel. (layaknya saya juga yang bikin mereka kesel)
Mereka tidak akan MENGHIANATI saya.
Mereka tidak akan MENJATUHKAN saya untuk kepentingannya.
Mereka tidak akan menyombongkan dirinya dengan kelebihannya.
Dan mereka tidak akan memanfaatkan atau pilih-pilih temannya.

Memang mereka tidak dapat diajak berbicara.
Mereka tidak bisa diajak menangis bersama.
Mereka tidak dapat diajak tertawa bersama.
Mereka pun tidak bisa diajak bertukar pikiran.
But, I DON’T CARE!
Karena kenyataannya…
Dengan teman yang sesama manusia pun tidak saya dapatkan hal-hal seperti itu
Dan saya pun ngga percaya yang namanya teman di saat suka dan duka
Saya ngga percaya itu setelah merasakan dunia kuliah.
Terlihat childish memang, malahan norak dan ga beralasan.
Tapi itu memang fakta…
SAAT INI TEMAN TERBAIK SAYA HANYA BENDA MATI






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham