Tadi, di luar rumah hujan turun. Tidak besar memang. Hanya rintik-rintik yang memberi secercah kehidupan bagi petani padi. Saya pun menikmati kehangatan di dalam rumah ditemani oleh secangkir kopi yang dicampur dengan nestle coffemate dan setoples biskuit. Sambil mendengarkan lagu-lagu yang mengalun lembut membelai batin. Memang tidak ada esensi antara hujan rintik-rintik di luar dengan menikmati secangkir kopi hangat (yang kemanisan). Namun saat-saat itu menjadi perenungan saya dalam mencari secuil jawaban atas segala realita di dunia ini.
Halah, cuih!! Saya emang anak jurnalistik. Tapi saya susah menyusun kata2. Bahkan Pak Sahala pun bilang tulisan saya terlalu banyak kesalahan berbahasa. Huehe… Bapak tega banget sih Pak ngata2in saya? Kan saya jadi malu. Ho..ho..
Jadi intinya gini, tadi sore itu pas saya lagi duduk-duduk sendiri sambil menikmati… (pokoknya sesuai dengan yang udah saya tulisin di atas tu!) saya mikir2. Sepertinya dunia ini adil ya. Adil ga sih? Semua memang diciptakan berpasang-pasangan dan saling melengkapi. Saya bukan orang yang selalu beruntung atas apa yang saya miliki. Tapi sedikit demi sedikit saya berhasil membuka mata saya dan sekali lagi saya mengatakan bahwa dunia itu adil. Setidaknya, itu yang saya rasakan akhir-akhir ini. Segala kekurangan dalam diri saya berhasil tertutupi oleh kelebihan saya. Bukan ditutupi tetapi tertutupi. Terkadang memang menyakitkan ketika kita dianggap tidak berguna oleh orang lain. Namun akan lebih menyakitkan apabila saya tidak mengakui kekurangan diri saya sendiri. Saya biarkan orang-orang mengambil keuntungan atas kelebihan yang saya miliki. Tapi saya pun masih punya batasan tertentu agar saya tidak termanfaatkan oleh mereka. Saya tegaskan, bukan dimanfaatkan tetapi termanfaatkan. Sekarang saya hanya berpikir, bagaimana agar kekurangan yang saya miliki bisa saya putar 180 derajat untuk jadi kelebihan saya. Karena itu yang saya inginkan.
Tidak jelas memang apa yang saya tuliskan ini. Biarkan semua berjalan perlahan dan mengalir apa adanya. Saya memiliki ambisi sendiri, obsesi sendiri. Begitu pula dengan orang lain. Semua orang bebas memiliki keinginan. Saya tidak ingin tahu dan tidak perlu tahu. Seharusnya memang begitu. Saya berharap orang lain juga tidak perlu tahu dan tidak ingin tahu keinginan-keinginan saya. Tapi bagaimana caranya agar mereka mengerti bahwa saat ini saya sedang berusaha untuk mendapatkan keinginan-keinginan saya? Entahlah. Saya tidak ingin waktu yang menjawabnya. Apalagi rumput yang bergoyang. Karena saya hanya bertanya pada diri saya sendiri, dan saya menghendaki jawaban juga dari diri saya sendiri.
Malam pun semakin larut. Jangkrik mulai berderik, tanda tak ada lagi hujan rintik-rintik. Pikiran saya pun tak lagi tergelitik untuk mendapat jawaban atas realita dunia ini.
Dan tiba-tiba saya tersadar dari sebuah mimpi…
Mimpi bahwa tak ada gunanya memikirkan jawaban atas pertanyaan yang saya pun tidak mengerti mengapa hal tersebut dipertanyakan. Karena saya tak mungkin untuk menjadi bagian besar dari dunia ini…
The End
NB: Tepuk tangan ya buat saya soalnya saya bisa mikir ini di saat saya sedang tak nyaman dengan kekurangan pada diri saya. Ho..ho.. sombong..